• Literasi digital adalah kecakapan menggunakan teknologi dan media digital secara cakap, kritis, etis, dan aman.
• Empat pilar literasi digital terdiri dari kecakapan digital (digital skills), budaya digital (digital culture), etika digital (digital ethics), dan keamanan digital (digital safety).
• Literasi digital tidak hanya berarti mampu menggunakan perangkat, tetapi juga mencakup kemampuan menilai informasi, berinteraksi secara bertanggung jawab, dan menjaga keamanan di ruang digital.
• Contoh literasi digital antara lain memverifikasi informasi sebelum membagikannya, menjaga data pribadi, menggunakan teknologi secara produktif, dan melindungi akun dari ancaman siber.
Internet dan teknologi digital telah menjadi bagian dari berbagai aktivitas sehari-hari, mulai dari mencari informasi dan berkomunikasi hingga bekerja dan melakukan transaksi. Namun, mampu menggunakan perangkat atau aplikasi saja belum cukup untuk disebut memiliki literasi digital.
Pengguna juga perlu mampu menilai informasi secara kritis, berinteraksi secara bertanggung jawab, serta menjaga keamanan diri dan data di ruang digital. Kemampuan tersebut menjadi bagian dari literasi digital.
Lantas, apa itu literasi digital? Mari pahami pengertian, empat pilar, tujuan, manfaat, hingga contoh penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pengertian Literasi Digital
Literasi digital adalah kecakapan untuk mengakses, memahami, mengevaluasi, menggunakan, dan memanfaatkan teknologi serta informasi digital secara cakap, kritis, etis, dan aman.
Menurut UNESCO, literasi digital adalah kemampuan untuk menggunakan teknologi digital secara percaya diri dan kritis dalam berbagai aspek kehidupan. Ini mencakup kemampuan untuk mencari, mengevaluasi, menyimpan, membuat, menyajikan, dan berbagi informasi, serta berkomunikasi dan berkolaborasi melalui internet.
Secara sederhana, literasi digital bukan hanya tentang kemampuan menggunakan komputer, internet, atau aplikasi. Seseorang juga perlu memahami bagaimana menilai informasi, berinteraksi secara bertanggung jawab, serta mengenali risiko yang dapat muncul ketika menggunakan teknologi.
Dalam praktiknya, kemampuan tersebut dapat terlihat dari kebiasaan sederhana, seperti memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya, menjaga data pribadi, menghormati orang lain di ruang digital, dan menggunakan teknologi untuk kegiatan yang produktif.
4 Pilar Literasi Digital
Di Indonesia, kerangka literasi digital mencakup empat pilar utama, yaitu kecakapan digital, budaya digital, etika digital, dan keamanan digital. Keempatnya saling melengkapi agar seseorang tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga dapat berinteraksi secara bijak, bertanggung jawab, dan aman di ruang digital.
1. Kecakapan Digital (Digital Skills)
Kecakapan digital adalah kemampuan untuk memahami dan menggunakan perangkat keras, perangkat lunak, serta sistem digital sesuai kebutuhan.
Contohnya meliputi menggunakan aplikasi untuk bekerja dan belajar, mencari informasi melalui internet, mengelola dokumen digital, hingga berkolaborasi menggunakan platform online. Kecakapan ini membantu seseorang memanfaatkan teknologi secara lebih efektif dan produktif.
2. Budaya Digital (Digital Culture)
Budaya digital berkaitan dengan kemampuan beraktivitas di ruang digital dengan tetap memahami nilai dan konteks kehidupan bermasyarakat.
Contohnya adalah menghargai keberagaman ketika berdiskusi secara online, berpartisipasi secara positif dalam komunitas digital, serta menggunakan teknologi untuk mendukung kegiatan sosial, pendidikan, maupun pekerjaan.
3. Etika Digital (Digital Ethics)
Etika digital adalah kemampuan untuk memahami dan menerapkan perilaku yang bertanggung jawab ketika berinteraksi di ruang digital.
Penerapannya dapat berupa memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya, menghormati privasi orang lain, mencantumkan sumber ketika menggunakan karya pihak lain, serta menghindari perundungan dan ujaran kebencian di internet.
4. Keamanan Digital (Digital Safety)
Keamanan digital adalah kemampuan untuk mengenali risiko dan melindungi diri, data, akun, serta aktivitas ketika menggunakan teknologi.
Contohnya antara lain menggunakan kata sandi yang kuat dan unik, mengaktifkan autentikasi dua faktor, mengenali upaya phishing, menjaga data pribadi, serta memastikan platform digital yang digunakan memiliki mekanisme keamanan yang memadai.
Keempat pilar tersebut saling berkaitan. Seseorang dapat memiliki kemampuan teknis yang baik, tetapi tetap menghadapi risiko apabila tidak memahami etika atau keamanan digital. Karena itu, literasi digital perlu dikembangkan secara menyeluruh.
Baca Juga: Memahami Keamanan Digital dan Cara Menjaganya
Tujuan Literasi Digital
Literasi digital bertujuan membantu masyarakat menggunakan teknologi secara lebih cakap, kritis, bertanggung jawab, dan aman. Beberapa tujuan utamanya meliputi:
- Meningkatkan kemampuan menggunakan teknologi sesuai kebutuhan sehari-hari, pendidikan, maupun pekerjaan.
- Mendorong kemampuan berpikir kritis dalam mencari, memahami, dan mengevaluasi informasi digital.
- Membangun perilaku yang bertanggung jawab ketika berkomunikasi dan berinteraksi di ruang digital.
- Meningkatkan kesadaran terhadap keamanan digital, termasuk perlindungan data pribadi, akun, dan aktivitas online.
- Mendorong pemanfaatan teknologi secara produktif untuk belajar, bekerja, berkolaborasi, dan menciptakan sesuatu.
Dengan demikian, tujuan literasi digital bukan sekadar membuat seseorang mahir menggunakan perangkat. Literasi digital juga membantu pengguna memahami bagaimana, kapan, dan untuk tujuan apa teknologi sebaiknya digunakan.
Manfaat Literasi Digital
Kemampuan literasi digital yang baik dapat memberikan berbagai manfaat dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:
1. Mempermudah Akses terhadap Informasi dan Pengetahuan
Internet memberikan akses ke berbagai sumber informasi, materi pembelajaran, dan pengetahuan. Dengan literasi digital, pengguna dapat mencari sekaligus menilai informasi yang relevan dan dapat dipercaya.
2. Membantu Berpikir Lebih Kritis
Literasi digital mendorong pengguna untuk tidak langsung menerima atau menyebarkan informasi yang ditemukan di internet. Pengguna dapat memeriksa sumber, membandingkan informasi, dan mengenali konten yang berpotensi menyesatkan.
3. Mendukung Produktivitas
Teknologi digital dapat membantu berbagai aktivitas, mulai dari belajar dan bekerja hingga berkomunikasi dan berkolaborasi. Kemampuan memilih serta menggunakan teknologi yang tepat dapat membuat proses tersebut lebih efektif.
4. Memperluas Komunikasi dan Kolaborasi
Platform digital memungkinkan seseorang berkomunikasi dan bekerja sama tanpa selalu berada di lokasi yang sama. Hal ini membuka peluang untuk bertukar pengetahuan dan berkolaborasi dengan lebih banyak orang.
5. Meningkatkan Kesadaran terhadap Risiko Digital
Literasi digital membantu pengguna lebih sadar terhadap berbagai risiko, seperti phishing, penipuan online, kebocoran data, dan penyalahgunaan informasi pribadi. Dengan memahami risikonya, pengguna dapat mengambil langkah yang lebih tepat untuk melindungi diri di ruang digital.
Baca Selengkapnya: Dampak Positif Literasi Digital
Contoh Literasi Digital dalam Kehidupan Sehari-hari
Literasi digital dapat diterapkan melalui berbagai aktivitas sederhana. Berikut beberapa contohnya:
- Memeriksa kebenaran informasi dengan membandingkan sumber sebelum membagikan berita atau konten.
- Menjaga keamanan akun menggunakan kata sandi yang kuat dan autentikasi multifaktor.
- Melindungi data pribadi dengan berhati-hati ketika memberikan informasi di platform digital.
- Berkomunikasi secara etis dengan menghormati orang lain dan tidak menyebarkan ujaran kebencian.
- Menghargai karya orang lain dengan mencantumkan sumber dan tidak menggunakan konten tanpa izin.
- Menggunakan teknologi secara produktif untuk belajar, bekerja, berkolaborasi, atau mengembangkan keterampilan.
Penerapannya dapat berbeda tergantung konteks dan aktivitas yang dilakukan. Untuk pembahasan yang lebih lengkap, lihat berbagai contoh literasi digital berdasarkan situasi dan penggunaannya.
Tantangan Literasi Digital
Di tengah perkembangan teknologi, penerapan literasi digital masih menghadapi berbagai tantangan. Beberapa di antaranya adalah:
1. Kesenjangan Akses terhadap Teknologi
Tidak semua orang memiliki akses yang sama terhadap perangkat, koneksi internet, dan infrastruktur digital. Kondisi ini dapat memengaruhi kesempatan untuk memperoleh informasi dan mengembangkan keterampilan digital.
2. Kesenjangan Pengetahuan dan Keterampilan
Memiliki akses terhadap teknologi tidak selalu berarti mampu menggunakannya secara efektif. Perbedaan pengetahuan dan keterampilan dapat membuat sebagian pengguna kesulitan mengikuti perkembangan teknologi.
3. Disinformasi dan Banjir Informasi
Banyaknya informasi di internet membuat pengguna perlu lebih kritis dalam membedakan informasi yang akurat, keliru, atau sengaja menyesatkan.
4. Konten Negatif dan Perilaku Tidak Etis
Ruang digital juga dapat menjadi tempat penyebaran perundungan, ujaran kebencian, penipuan, dan berbagai konten merugikan lainnya. Karena itu, kemampuan memahami etika dan risiko digital menjadi semakin penting.
5. Ancaman Keamanan Siber
Phishing, pencurian data, pengambilalihan akun, dan berbagai bentuk kejahatan siber menjadi risiko yang perlu dikenali pengguna. Literasi digital membantu seseorang memahami ancaman tersebut dan menerapkan kebiasaan digital yang lebih aman.
Baca Juga: Cara Meningkatkan Literasi Digital
Penerapan Literasi Digital di Dunia Kerja
Literasi digital juga menjadi bagian penting dalam lingkungan kerja. Penggunaan email, aplikasi kolaborasi, penyimpanan cloud, hingga dokumen digital membutuhkan kemampuan yang lebih luas daripada sekadar mengoperasikan teknologi.
Beberapa contoh penerapan literasi digital di dunia kerja meliputi:
- memilih dan menggunakan aplikasi sesuai kebutuhan pekerjaan;
- memeriksa kredibilitas informasi sebelum menggunakannya sebagai dasar pengambilan keputusan;
- berkomunikasi secara profesional melalui platform digital;
- menjaga kerahasiaan data perusahaan dan pelanggan;
- mengenali email, tautan, atau dokumen yang mencurigakan;
- mengatur akses terhadap file sesuai kewenangan; dan
- menggunakan platform digital yang memiliki mekanisme keamanan sesuai kebutuhan.
Dalam pengelolaan dokumen, misalnya, karyawan perlu memahami bahwa tanda tangan yang sekadar berbentuk gambar berbeda dengan tanda tangan elektronik yang memiliki mekanisme untuk mengidentifikasi penanda tangan dan menjaga keutuhan informasi elektronik.
Karena itu, literasi digital di tempat kerja juga mencakup kemampuan memahami teknologi yang digunakan dalam proses bisnis serta risiko yang menyertainya.
Tingkatkan Keamanan Dokumen Digital bersama Mekari Sign
Salah satu pilar literasi digital adalah keamanan digital. Dalam lingkungan bisnis, penerapannya juga mencakup cara perusahaan mengelola dan menandatangani dokumen secara digital.
Mekari Sign membantu perusahaan mengirim dan menandatangani dokumen menggunakan tanda tangan elektronik tersertifikasi. Proses penandatanganan dapat dilakukan secara online, sementara fitur seperti audit trail membantu mencatat aktivitas pada dokumen.
Dengan memilih teknologi yang sesuai dengan kebutuhan dan memahami mekanisme keamanannya, perusahaan dapat menjalankan proses dokumen digital secara lebih terstruktur.
Penutup
Literasi digital adalah kecakapan untuk menggunakan teknologi secara cakap, kritis, etis, dan aman. Kemampuan ini mencakup empat pilar utama, yaitu kecakapan digital, budaya digital, etika digital, dan keamanan digital.
Penerapannya dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti memeriksa informasi sebelum membagikannya, menjaga data pribadi, berkomunikasi secara bertanggung jawab, hingga memahami keamanan teknologi yang digunakan dalam pekerjaan.
Seiring semakin banyaknya aktivitas yang dilakukan secara digital, literasi digital membantu pengguna tidak hanya menjadi lebih mahir menggunakan teknologi, tetapi juga lebih bijak dan aman dalam memanfaatkannya.

