icon
HR
5 min read

Panduan Workforce Management dan Penerapannya dalam Bisnis

Ditulis oleh:
Mekari Sign Author Almer Alyafaras
Tayang
Share
WhatsApp X LinkedIn Facebook
Featured image panduan workforce management
Panduan Workforce Management dan Penerapannya dalam Bisnis
Mekari Sign Highlights

  • Workforce management (WFM) membantu perusahaan merencanakan, mengatur, dan memantau tenaga kerja sesuai kebutuhan operasional.
  • WFM mencakup workforce planning, scheduling, time and attendance, absence management, serta workforce analytics.
  • Pengelolaan workforce membantu perusahaan menyeimbangkan kapasitas tenaga kerja, biaya, dan produktivitas.
  • Perubahan workforce dapat memicu proses HR seperti recruitment, onboarding, kontrak kerja, approval, dan pengelolaan dokumen.
  • Hubungkan proses workforce dengan tanda tangan digital untuk mempercepat approval dan pengelolaan dokumen karyawan.

Workforce management mulai terasa penting ketika kebutuhan tenaga kerja berubah lebih cepat daripada proses perusahaan. Jumlah orang yang tersedia, jadwal kerja, absensi, lokasi, dan beban pekerjaan perlu terus disesuaikan agar operasional tetap berjalan.

Kondisi tersebut menjadi lebih kompleks ketika informasi workforce tersebar di beberapa sistem. Manajer operasional membutuhkan data untuk mengatur kapasitas, sementara HR harus memastikan perubahan workforce tetap tercatat dan diproses sesuai kebutuhan administrasi.

Apa Itu Workforce Management?

Workforce management adalah pendekatan untuk merencanakan, mengatur, dan memantau tenaga kerja agar kapasitas, waktu, dan ketersediaan karyawan selaras dengan kebutuhan bisnis.

Praktiknya mencakup perencanaan kebutuhan tenaga kerja, penyusunan jadwal, pencatatan waktu kerja, pengelolaan absensi, hingga analisis data workforce. Cakupan tersebut dapat berkembang sesuai pola kerja, jumlah tenaga kerja, lokasi operasional, dan karakteristik industri.

Komponen Fokus
Workforce planning Memperkirakan kebutuhan dan kapasitas tenaga kerja.
Scheduling Mengatur jadwal kerja sesuai kebutuhan operasional.
Time and attendance Mencatat waktu kerja dan kehadiran karyawan.
Absence management Mengelola ketidakhadiran dan dampaknya terhadap kapasitas workforce.
Workforce analytics Menganalisis data workforce untuk mendukung keputusan operasional.

Perusahaan dengan sistem shift, tenaga kerja lapangan, atau kebutuhan staffing yang berubah-ubah biasanya membutuhkan pengelolaan workforce yang lebih kompleks. Karena itu, WFM sering terhubung dengan HRIS, payroll, dan sistem operasional lain yang menggunakan data tenaga kerja.

Apa Saja Fungsi Workforce Management?

Fungsi workforce management berpusat pada satu kebutuhan utama: memastikan tenaga kerja yang tersedia sesuai dengan pekerjaan yang harus diselesaikan. Setiap fungsi menangani bagian berbeda dari proses tersebut.

Fungsi Peran dalam Operasional
Workforce planning Menentukan jumlah dan komposisi tenaga kerja berdasarkan kebutuhan bisnis.
Scheduling Menyusun jadwal kerja berdasarkan kapasitas dan kebutuhan operasional.
Time and attendance Mencatat kehadiran dan waktu kerja sebagai dasar pengelolaan tenaga kerja.
Absence management Memantau ketidakhadiran dan dampaknya terhadap ketersediaan tenaga kerja.
Workforce analytics Mengolah data workforce untuk menemukan pola dan mendukung pengambilan keputusan.

Pada pola kerja shift atau demand yang berubah-ubah, data attendance, overtime, absence, dan scheduling perlu dibaca sebagai satu rangkaian. Pola overtime yang terus meningkat, misalnya, dapat menjadi sinyal untuk mengevaluasi jadwal, staffing, atau distribusi pekerjaan.

Mengapa Workforce Management Penting bagi Bisnis?

Nilai workforce management terlihat dari dampaknya terhadap biaya, produktivitas, dan kualitas operasional. Staffing yang terlalu rendah dapat mengganggu kapasitas layanan, sedangkan staffing yang terlalu tinggi dapat meningkatkan biaya ketika kapasitas tersebut tidak terserap.

Data workforce juga membantu manajer melihat pola yang sulit terlihat dari keputusan harian. Kenaikan overtime, absensi tertentu, atau perubahan kebutuhan tenaga kerja dapat menjadi dasar untuk mengevaluasi staffing dan alokasi pekerjaan.

Dampaknya semakin relevan pada organisasi dengan banyak shift, beberapa lokasi kerja, tenaga kerja hourly, atau pola permintaan yang berubah sepanjang waktu. WFM juga membantu menjaga akurasi data waktu kerja dan mendukung kepatuhan terhadap aturan ketenagakerjaan melalui proses yang lebih terstruktur.

Bagaimana Workforce Management Bekerja dalam Operasional?

Workforce management mengikuti siklus yang terus berulang. Perusahaan memperkirakan kebutuhan tenaga kerja, menyusun penugasan, menjalankan operasional, memantau hasilnya, lalu menggunakan data tersebut untuk memperbaiki perencanaan berikutnya.

Tahap Aktivitas Utama
Planning Memperkirakan kebutuhan tenaga kerja berdasarkan workload dan demand.
Scheduling Menempatkan tenaga kerja ke jadwal dan penugasan yang sesuai.
Execution Menjalankan operasional berdasarkan jadwal dan alokasi yang ditetapkan.
Monitoring Memantau attendance, absensi, overtime, dan kondisi workforce.
Analysis Mengevaluasi data workforce sebagai dasar perencanaan berikutnya.

Siklus tersebut membuat workforce management bersifat dinamis. Hasil monitoring menjadi masukan untuk perencanaan berikutnya, sehingga perubahan demand, absensi, kapasitas, atau beban kerja dapat memengaruhi keputusan staffing dan scheduling.

Perubahan workforce juga dapat memicu proses administratif di luar sistem WFM. Dalam proses rekrutmen karyawan, misalnya, keputusan menerima kandidat dapat berlanjut ke offering letter dan tanda tangan kontrak kerja.

Setelah karyawan bergabung, alur tersebut berlanjut ke onboarding dan dokumen lain sepanjang employee lifecycle. Pada tahap inilah workflow HR bersinggungan dengan kebutuhan pengelolaan dokumen, approval, dan signing.

Apa Saja Tantangan dalam Workforce Management?

Masalah workforce management sering muncul ketika data dan proses berjalan sendiri-sendiri. HR memegang data karyawan, manajer operasional mengatur jadwal, sedangkan informasi dokumen dan approval tersimpan di sistem atau kanal yang berbeda.

Akibatnya, satu perubahan workforce dapat memicu beberapa pekerjaan administratif sekaligus. Perpindahan posisi, perubahan lokasi, atau perubahan status karyawan dapat membutuhkan pembaruan data, dokumen, approval, hingga tanda tangan.

Volume dokumen ikut memperbesar beban tersebut. Dokumen employment dan onboarding perlu memiliki versi, status, serta pihak yang bertanggung jawab agar proses tetap dapat ditelusuri. Contoh kebutuhannya terlihat pada pengelolaan kontrak kerja yang melibatkan dokumen dan pihak berwenang dalam satu proses.

Bagaimana Teknologi Mendukung Workforce Management?

Teknologi membantu perusahaan menghubungkan data workforce dengan proses yang menggunakannya. WFM dapat menangani scheduling, time tracking, absence, dan analytics, sementara HRIS menjadi sumber data karyawan dan dapat terhubung dengan payroll atau sistem bisnis lainnya.

Dalam satu employee lifecycle, data tersebut kemudian bergerak ke proses yang berbeda. Jadwal dan attendance berada di WFM, data karyawan di HRIS, payroll menggunakan data waktu kerja, sedangkan dokumen employment membutuhkan review, approval, dan signing.

Workflow automation membantu menghubungkan bagian-bagian tersebut. Dalam konteks HR, pendekatan ini dapat mendukung digital onboarding, proses rekrutmen, serta pengelolaan dokumen yang membutuhkan persetujuan atau tanda tangan.

Pada proses recruitment, misalnya, integrasi Mekari Sign dan Talenta dapat menghubungkan kebutuhan dokumen dengan proses HR. Untuk kebutuhan HR yang lebih luas, integrasi Mekari Talenta memperluas koneksi tersebut dalam workflow yang melibatkan data karyawan dan dokumen.

Workforce management pada akhirnya membantu perusahaan menjaga keseimbangan antara kebutuhan tenaga kerja dan kebutuhan operasional. Ketika data workforce, proses HR, serta dokumen karyawan bergerak dalam workflow yang terhubung, perusahaan memiliki proses yang lebih mudah dipantau dan dikelola.

Referensi

WhatsApp WhatsApp Sales