- Surat perjanjian investasi berfungsi sebagai bukti hukum tertulis yang mengubah kesepakatan lisan menjadi dokumen pengikat antara pemilik modal dan pengelola usaha.
- Dokumen ini wajib merinci nominal modal, mekanisme bagi hasil, risiko kerugian, hingga prosedur penyelesaian sengketa untuk melindungi hak kedua belah pihak.
- Format perjanjian dapat disesuaikan dengan kebutuhan bisnis, mulai dari investasi modal sederhana, sistem bagi hasil (profit sharing), hingga akad syariah.
- Penggunaan tanda tangan elektronik tersertifikasi memperkuat keabsahan dokumen meski dibuat tanpa notaris atau pertemuan fisik.
Lonjakan kasus investasi bodong dan sengketa investasi membuat banyak orang mulai berhati-hati saat menempatkan dana. OJK mencatat kerugian akibat investasi ilegal sejak 2017 menembus lebih dari Rp100 triliun, yang menyasar masyarakat umum. Banyak korban baru tersadar bahwa mereka sebenarnya tidak pernah punya perjanjian tertulis yang cukup kuat untuk melindungi haknya.
Untuk membantu Anda menghindari situasi serupa, artikel ini mengulas peran surat perjanjian investasi, hal yang wajib tertuang, serta contoh dokumen yang bisa Anda jadikan acuan. Biar jelas, mari Anda mulai dari pengertiannya terlebih dahulu.
Apa Itu Surat Perjanjian Investasi?
Surat perjanjian investasi adalah dokumen tertulis yang memuat kesepakatan antara Anda (pemilik modal) dan mitra (pengelola usaha). Isinya mengatur hak, kewajiban, dan konsekuensi dari kerja sama tersebut.
Kenapa ini penting? Tanpa surat ini, uang yang Anda transfer bisa saja dianggap sebagai pemberian cuma-cuma atau sekadar utang biasa di mata hukum. Akibatnya, Anda kehilangan hak untuk menuntut pembagian keuntungan atau meminta pertanggungjawaban jika pengelola menggunakan dana tersebut tidak sesuai tujuan awal.
Mengapa Perjanjian Investasi Penting untuk Keamanan Kedua Belah Pihak?
Banyak orang enggan membuat perjanjian karena merasa “sungkan” atau ribet, padahal fungsinya sangat krusial. Berikut alasan mengapa Anda wajib memilikinya:
- Kepastian Hukum: Menjadi bukti sah di mata hukum jika salah satu pihak wanprestasi atau melanggar janji.
- Kejelasan Hak dan Kewajiban: Mencegah perdebatan mengenai siapa yang harus bekerja dan siapa yang hanya menyetor dana.
- Mekanisme Bagi Hasil yang Transparan: Menghindari kecurigaan saat pembagian dividen atau profit sharing.
- Antisipasi Risiko: Mengatur langkah konkret jika usaha mengalami kerugian, sehingga investor tidak kaget jika modalnya berkurang.
Baca Juga:Peran Tanda Tangan Digital dalam Digital Trust Bisnis Anda
Jenis-Jenis Perjanjian Investasi
Sebelum menyalin draf kontrak, pahami dulu jenis kesepakatan yang cocok untuk model bisnis Anda:
1. Investasi Modal Usaha Sederhana
Jenis ini cocok untuk kerja sama skala UMKM atau pendanaan proyek jangka pendek. Isinya fokus pada jumlah dana dan pengembalian.
Dok. Scribd
2. Investasi Bagi Hasil (Profit Sharing)
Model ini paling adil untuk bisnis yang fluktuatif karena investor mendapatkan bagian dari laba bersih, bukan bunga tetap.
Dok. Scribd
3. Investasi Syariah (Mudharabah/Musyarakah)
Perbedaan utama akad syariah adalah larangan menjamin keuntungan pasti (fixed rate) dan penekanan bahwa kerugian finansial murni ditanggung pemilik modal (Shahibul Maal), kecuali jika pengelola (Mudharib) lalai.
Dok. Scribd
4. Investasi Saham & Properti (Penting!)
Khusus untuk investasi yang melibatkan kepemilikan saham pada Perseroan Terbatas (PT) atau kepemilikan aset properti (tanah/bangunan), Anda sangat disarankan tidak hanya mengandalkan surat perjanjian bawah tangan.
Menurut Undang-Undang Perseroan Terbatas, perubahan pemegang saham harus melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dan dicatatkan dalam Akta Notaris serta dilaporkan ke Kemenkumham. Menggunakan “kuitansi” atau “surat perjanjian biasa” untuk beli saham sangat berisiko batal demi hukum.
Dok. Scribd
Baca Juga: Keabsahan Tanda Tangan Elektronik dalam Akta Notaris di 2026
Hal-Hal yang Wajib Ada dalam Surat Perjanjian Investasi
Pastikan draf yang Anda buat memuat elemen-elemen berikut agar tidak ompong di mata hukum:
- Identitas Lengkap: Nama, NIK, dan alamat sesuai KTP.
- Objek Investasi: Jelaskan uang tersebut untuk usaha apa.
- Nilai Nominal: Tulis angka dan terbilang (contoh: sepuluh juta rupiah) untuk menghindari manipulasi.
- Mekanisme Bagi Hasil & Jangka Waktu: Kapan uang kembali dan berapa porsinya.
- Klausul Force Majeure: Apa yang terjadi jika ada bencana alam atau pandemi.
- Tanda Tangan di atas Materai: Atau menggunakan tanda tangan elektronik tersertifikasi yang setara kekuatan hukumnya.
Meskipun perjanjian bawah tangan (tanpa notaris) tetap sah secara hukum selama memenuhi syarat sah perjanjian (Pasal 1320 KUHPerdata), perjanjian yang dibuat di hadapan Notaris (Akta Otentik) memiliki kekuatan pembuktian yang sempurna. Namun, untuk kebutuhan bisnis yang cepat dan efisien, penggunaan Tanda Tangan Elektronik tersertifikasi kini menjadi solusi yang diakui oleh UU ITE sebagai alat bukti hukum yang sah dan dapat dipertanggungjawabkan.
Baca Juga: 5 Contoh Surat Keterangan Usaha untuk KUR & Bisnis, Terbaru!
Tips mengurangi risiko sengketa investasi lewat perjanjian tertulis
Beberapa tips praktis yang bisa Anda terapkan dalam mengurangi sengketa:
- Tulis semua hal penting, jangan mengandalkan “nanti gampang”: Catat hal-hal sensitif seperti modal, bagi hasil, batas kewenangan, dan cara berhenti kerja sama. Hindari menyimpan hal penting hanya dalam obrolan lisan.
- Gunakan bahasa yang jelas dan mudah dipahami: Pilih kalimat sederhana yang bisa dimengerti orang awam, bukan istilah hukum rumit. Jika perlu istilah teknis, tambahkan penjelasan singkat di dalam perjanjian.
- Bedakan dengan tegas antara modal, pinjaman, dan bagi hasil: Pastikan semua pihak memahami perbedaan antara modal yang ikut menanggung risiko dan pinjaman yang harus kembali penuh. Banyak konflik bermula dari ketidakjelasan konsep ini.
- Setujui format laporan dan cara komunikasi sejak awal: Tentukan apakah laporan lewat email, spreadsheet, atau sistem tertentu, serta seberapa sering laporan dikirim. Kesepakatan ini menjaga ekspektasi kedua belah pihak tetap realistis.
- Gunakan tanda tangan elektronik tersertifikasi untuk perjanjian digital: Untuk perjanjian yang dikirim lintas kota atau negara, tanda tangan elektronik tersertifikasi dan e-Meterai membantu menjaga keabsahan dokumen tanpa perlu bertemu langsung.
Baca Juga: Perjanjian dan Kontrak: Persamaan dan Perbedaannya
Surat perjanjian investasi membantu Anda mengubah kesepakatan lisan menjadi aturan main yang jelas, terukur, dan mudah Anda rujuk ketika usaha berjalan. Dengan struktur yang tepat, Anda dapat memuat identitas para pihak, nilai modal, bentuk usaha, skema bagi hasil, hingga cara menyelesaikan perselisihan secara elegan.
Jika Anda ingin pengelolaan perjanjian investasi berjalan lebih cepat, aman, dan mudah, Anda dapat memanfaatkan solusi tanda tangan elektronik dan e-Meterai yang compliant seperti Mekari Sign.
Untuk memahami lebih banyak jenis dokumen bisnis lain yang perlu Anda kelola secara digital, Anda dapat membaca panduan lain pada blog Mekari Sign.
Amankan surat perjanjian investasi Anda dengan tanda tangan digital tersertifikasi sekarang

