- ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA) adalah kesepakatan regional untuk memperkuat integrasi ekonomi digital di negara-negara ASEAN.
- Negosiasi DEFA berhasil diselesaikan pada Mei 2026 dan penandatanganannya dijadwalkan pada November 2026.
- DEFA mencakup digital trade, cross-border e-commerce, payments, digital ID dan authentication, data flows, cybersecurity, hingga kerja sama AI dan talent.
- Studi Boston Consulting Group memperkirakan ekonomi digital ASEAN dapat mendekati US$2 triliun pada 2030 dengan implementasi DEFA.
- Bisnis Indonesia dapat mulai menyiapkan proses lintas negara, termasuk pengelolaan dokumen dan transaksi digital melalui Mekari Sign.
Ekspansi bisnis ke negara ASEAN semakin banyak bergantung pada proses digital. Transaksi dapat melibatkan dokumen elektronik, pembayaran, pertukaran data, verifikasi identitas, dan sistem bisnis yang berada di beberapa negara.
Setiap negara masih memiliki tingkat kesiapan digital dan aturan yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat memengaruhi cara perusahaan mengirim dokumen, memproses data, menerima pembayaran, atau melakukan transaksi dengan mitra di negara ASEAN lain.
ASEAN Digital Economy Framework Agreement atau ASEAN DEFA dirancang untuk memperkuat integrasi ekonomi digital di kawasan. Bagi bisnis Indonesia, perkembangannya penting karena kesepakatan ini dapat memengaruhi cara perusahaan menjalankan dan mengembangkan aktivitas digital lintas negara.
Apa itu ASEAN DEFA?
ASEAN Digital Economy Framework Agreement atau DEFA adalah kesepakatan regional yang dirancang untuk membangun ekonomi digital ASEAN yang lebih terbuka, aman, interoperabel, kompetitif, dan inklusif. Kerangka negosiasinya disepakati pada 2023 untuk menjadi dasar pembahasan integrasi ekonomi digital di kawasan.
DEFA melanjutkan agenda digital ASEAN yang sudah berjalan sebelumnya. Salah satunya adalah ASEAN Agreement on Electronic Commerce yang ditandatangani pada 2019 untuk memfasilitasi transaksi e-commerce lintas negara dan meningkatkan kepercayaan dalam penggunaan perdagangan elektronik.
Cakupan DEFA kemudian diperluas ke berbagai bagian ekonomi digital. Public Summary ASEAN DEFA membagi ruang lingkupnya ke dalam sembilan area, yaitu digital trade, cross-border e-commerce, payments, digital ID and authentication, online safety and cybersecurity, cross-border data flows and data protection, competition policy, emerging topics, serta talent mobility and cooperation.
Cakupan tersebut membuat DEFA relevan bagi bisnis di luar sektor teknologi. Perusahaan manufaktur, perdagangan, jasa, keuangan, dan perusahaan berbasis digital juga dapat terdampak ketika transaksi dan operasional mereka semakin terhubung dengan pasar ASEAN.
Bagaimana status ASEAN DEFA per 27 September 2026?
ASEAN mengumumkan substantial conclusion atas negosiasi DEFA pada 24 Oktober 2025. Pada tahap tersebut, ASEAN menyatakan DEFA telah mencapai tonggak penting, tetapi masih menugaskan negosiator untuk menyelesaikan pekerjaan menuju full conclusion dan penandatanganan pada 2026. Statement ASEAN Economic Community Council menjelaskan perkembangan tersebut.
Perkembangan berikutnya terjadi pada 27–29 Mei 2026 ketika ASEAN Senior Economic Officials menyelesaikan seluruh outstanding issues dalam negosiasi DEFA. ASEAN kemudian mengumumkan conclusion of the DEFA negotiations pada 1 Juni 2026.
Per 27 September 2026, DEFA belum menjadi perjanjian yang sudah berlaku penuh. Kalender publik ASEAN 2026 mencantumkan Signing Ceremony for the ASEAN Digital Economy Framework Agreement pada 10 November 2026 di Metro Manila.
Karena itu, bisnis perlu membedakan antara hasil negosiasi yang sudah diselesaikan dan ketentuan yang sudah efektif berlaku. Detail implementasi di masing-masing negara tetap perlu mengikuti teks final dan perkembangan domestik setelah proses penandatanganan.
Mengapa ASEAN DEFA penting bagi bisnis Indonesia?
Skala ekonomi digital ASEAN menjadi salah satu alasan DEFA mendapat perhatian besar. Studi ASEAN DEFA yang disusun Boston Consulting Group memperkirakan ekonomi digital ASEAN dapat mencapai lebih dari US$1 triliun pada 2030 melalui pertumbuhan alami. Dalam skenario implementasi DEFA, nilainya diperkirakan dapat mendekati US$2 triliun.
Studi tersebut tidak hanya melihat ukuran pasar. BCG juga mengumpulkan masukan dari lebih dari 2.000 MSME dan melibatkan perusahaan besar, badan sektoral ASEAN, serta berbagai pemangku kepentingan dalam penyusunan rekomendasinya.
Peluang tersebut terutama berkaitan dengan berkurangnya hambatan dalam perdagangan digital, pembayaran, digital identity, data, dan keamanan. BCG mengidentifikasi kebutuhan bisnis terhadap standardisasi regulasi, interoperabilitas, proses perdagangan yang lebih sederhana, dan peningkatan kepastian dalam operasi lintas negara.
Bagi bisnis Indonesia, artinya ada ruang yang lebih besar untuk memperluas pasar regional sekaligus kebutuhan untuk menyesuaikan proses internal dengan lingkungan digital yang semakin terhubung.
Apa saja area ASEAN DEFA yang membuka peluang bagi bisnis?
| Area DEFA | Arah integrasi | Peluang bagi bisnis Indonesia |
|---|---|---|
| Digital trade | Dokumen elektronik, paperless trade, interoperabilitas, dan electronic invoice. | Mendukung proses perdagangan lintas negara dengan pertukaran dokumen yang lebih terhubung. |
| Cross-border e-commerce | Proses perdagangan digital dan penyederhanaan prosedur tertentu. | Membuka ruang ekspansi untuk penjualan barang dan jasa ke pasar ASEAN. |
| Payments | Interoperabilitas sistem pembayaran dan penyelarasan standar. | Mempermudah transaksi digital yang melibatkan pihak di negara ASEAN lain. |
| Digital ID & authentication | Interoperabilitas dan pengakuan identitas serta authentication. | Mendukung verifikasi pihak dalam transaksi dan layanan digital lintas negara. |
| Cross-border data flows & data protection | Memfasilitasi arus data dengan perlindungan yang memadai. | Relevan bagi bisnis yang memproses data di beberapa negara ASEAN. |
| Cybersecurity | Kerja sama dan penyelarasan pendekatan terhadap keamanan digital. | Mendorong kebutuhan terhadap sistem dan proses bisnis yang lebih aman. |
| Emerging technologies | Kerja sama kebijakan dan tata kelola teknologi seperti AI. | Membuka ruang bagi pengembangan dan penggunaan teknologi baru secara regional. |
| Talent mobility | Pengembangan dan mobilitas talenta digital. | Mendukung perusahaan yang mengelola tenaga kerja atau kompetensi digital lintas negara. |
Untuk perusahaan yang banyak bertransaksi secara digital, perubahan pada area tersebut dapat terlihat dari hal-hal yang sangat operasional. Contohnya adalah bagaimana dokumen dibuat dan dikirim, bagaimana identitas pihak diverifikasi, bagaimana data berpindah antarnegara, dan bagaimana sistem perusahaan terhubung dengan partner regional.
Dokumen elektronik menjadi salah satu bagian penting dalam arah digital trade ASEAN. Perusahaan yang masih mengandalkan proses berbasis dokumen fisik dapat mulai menilai kesiapan digitalisasi dokumen dan workflow yang digunakan dalam transaksi lintas negara.
Perusahaan Indonesia yang mulai melakukan kontrak dengan mitra di negara ASEAN juga perlu melihat bagaimana kontrak elektronik digunakan dalam transaksi lintas negara. Kontrak elektronik internasional memiliki pertimbangan yang lebih luas karena transaksi dapat melibatkan hukum, persyaratan, dan pihak dari yurisdiksi yang berbeda.
Baca juga: Apa Itu Certificate of Origin dan Cara Mendapatkannya?
Bagaimana bisnis Indonesia bisa melihat peluang DEFA secara konkret?
Langkah awalnya adalah menentukan negara ASEAN yang paling dekat dengan rencana bisnis perusahaan. Fokus tersebut dapat berasal dari lokasi pelanggan, supplier, partner, tenaga kerja, atau target ekspansi dalam beberapa tahun ke depan.
Setelah negara prioritas ditentukan, perusahaan dapat memetakan proses yang melibatkan pihak di negara tersebut. Pemetaan ini dapat mencakup dokumen, approval, payment, data exchange, authentication, dan sistem yang digunakan pada setiap tahap.
| Kondisi bisnis | Area yang perlu diperhatikan | Pertanyaan yang bisa diajukan |
|---|---|---|
| Menjual produk atau jasa ke ASEAN | Digital trade dan cross-border e-commerce | Bagian mana dari proses transaksi yang masih bergantung pada dokumen atau proses manual? |
| Mengelola supplier regional | Data flows dan authentication | Bagaimana dokumen, identitas, dan informasi vendor dipertukarkan? |
| Memproses transaksi lintas negara | Payments dan e-invoicing | Apakah sistem finance dapat mendukung proses dan format transaksi yang berbeda? |
| Mengelola data di beberapa negara | Data protection dan cross-border data flows | Data apa yang berpindah antarnegara dan kontrol apa yang diterapkan? |
| Menyediakan software atau layanan digital | Digital ID, cybersecurity, dan emerging technologies | Apakah sistem sudah siap untuk kebutuhan authentication, security, dan interoperability? |
Perusahaan juga dapat melihat kebutuhan integrasi antar sistem. Ketika data harus berpindah dari satu platform ke platform lain, integrasi API dapat mengurangi input ulang dan membantu proses berjalan lebih konsisten.
Baca juga: Apa Itu Digital Trust? Fondasi Bisnis Aman & Cepat
Apa yang perlu disiapkan bisnis sebelum DEFA diterapkan?
Perusahaan dapat memulai dari proses yang sudah berjalan saat ini, lalu menentukan bagian yang paling banyak bergantung pada perbedaan sistem atau prosedur antarnegara. Tujuannya adalah mengetahui area yang berpotensi membutuhkan perubahan ketika integrasi digital semakin luas.
Dokumen dan data layak menjadi titik awal karena keduanya sering berpindah antar fungsi dan organisasi. Perusahaan dapat memeriksa bagaimana dokumen dibuat, disetujui, ditandatangani, dikirim, disimpan, dan ditelusuri sepanjang proses.
Perusahaan juga perlu melihat keamanan dan kontrol akses sejak awal. Integrasi lintas negara meningkatkan kebutuhan untuk mengetahui siapa yang dapat mengakses data, sistem mana yang terhubung, dan bagaimana aktivitas digital dapat ditelusuri.
Baca juga: Data Sovereignty untuk Bisnis: Panduan Menjaga Data dan Kepatuhan
Studi BCG menunjukkan bahwa tingkat kesiapan digital negara-negara ASEAN tidak sama. Karena itu, bisnis tetap perlu melihat kondisi tiap pasar dan tidak menganggap seluruh proses regional akan berubah pada waktu atau cara yang sama.
Apa yang masih perlu ditunggu dari ASEAN DEFA?
Perkembangan DEFA sudah melewati tahap negosiasi, tetapi bisnis masih perlu menunggu tahap penandatanganan dan perkembangan implementasi setelahnya. Teks final akan menjadi acuan penting untuk memahami kewajiban dan mekanisme yang benar-benar berlaku.
Perusahaan juga perlu memperhatikan aturan domestik di masing-masing negara. DEFA dirancang untuk meningkatkan interoperabilitas regional, tetapi penerapan di tingkat nasional tetap perlu melihat kesiapan dan kerangka hukum masing-masing negara anggota.
Karena itu, waktu terbaik untuk mulai mempersiapkan diri bukan dengan mengubah seluruh sistem sekaligus. Perusahaan dapat mulai dari transaksi lintas negara yang sudah berjalan, mengidentifikasi bagian yang masih manual, dan menilai kebutuhan interoperabilitas sebelum perubahan regulasi dan pasar semakin dekat.
Hingga artikel ini dibuat, milestone publik berikutnya adalah penandatanganan DEFA pada November 2026. Setelah itu, bisnis dapat meninjau kembali proses, sistem, dan dokumen yang terdampak berdasarkan teks final serta panduan implementasi yang tersedia.
Untuk perusahaan yang mengelola transaksi, dokumen, dan persetujuan lintas fungsi, Mekari Sign dapat mendukung workflow dokumen digital, approval, dan tanda tangan elektronik secara terstruktur.
