- Penipuan modern lebih banyak menyerang psikologis manusia lewat rekayasa sosial (social engineering) daripada meretas sistem keamanan canggih.
- Prinsip Zero Trust atau ‘jangan percaya siapapun’ menjadi pertahanan terbaik untuk memverifikasi setiap tautan, file, dan instruksi transaksi.
- Pencegahan efektif meliputi verifikasi dua langkah manual, penggunaan kode rahasia keluarga, hingga konfirmasi telepon untuk urusan bisnis.
Kejahatan siber terus berevolusi; jika dulu kita waspada terhadap SMS “mama minta pulsa“, sekarang kita berhadapan dengan AI yang bisa meniru suara atasan atau kerabat. Para penipu kini menggunakan teknologi canggih untuk memanipulasi emosi Anda, membuat Anda panik atau terlalu gembira hingga lupa memeriksa kebenaran informasi.
Menghadapi ancaman futuristik ini, pertahanan standar seperti password saja tidak lagi cukup. Mari Anda simak 7 strategi terbaru yang wajib Anda terapkan untuk menjaga keamanan digital di tahun 2026.
1. Waspadai Modus “Quishing” (QR Code Phishing)
Anda mungkin sudah terbiasa memindai kode QR untuk melihat menu restoran atau membayar parkir. Namun, hati-hati terhadap modus Quishing. Penipu sering menempelkan stiker kode QR palsu di atas kode QR asli pada fasilitas umum atau mengirimkannya via email.
- Periksa URL Pratinjau: Saat memindai, aplikasi kamera biasanya menampilkan pratinjau alamat web. Pastikan alamatnya masuk akal dan aman (https).
- Hindari Input Data: Jangan pernah memasukkan data pribadi atau login bank melalui hasil pindaian QR Code di tempat umum yang tidak terjamin keamanannya.
Baca Juga: Apa Itu Phising? Cara Kerja, Contoh & Tips Menghindarinya
2. Kenali Jebakan File .APK dan Undangan Digital
Modus sniffing melalui file berekstensi .APK masih menjadi ancaman serius. Penipu sering menyamar sebagai kurir paket, mengirim undangan pernikahan, atau surat tilang elektronik lewat WhatsApp.
- Hanya Buka PDF/JPG: Dokumen resmi, undangan, atau resi pengiriman yang sah pasti berbentuk gambar (.JPG/.PNG) atau dokumen (.PDF).
- Matikan “Install from Unknown Source”: Pastikan pengaturan HP Anda menolak instalasi aplikasi dari luar toko aplikasi resmi (Play Store/App Store).
3. Lawan “AI Deepfake” dengan Kode Rahasia Keluarga
Teknologi AI kini memungkinkan penipu mengkloning suara (Voice Cloning) bahkan wajah seseorang (Deepfake). Anda bisa saja menerima telepon dari orang yang suaranya persis anak atau pasangan Anda, menangis meminta transfer uang karena kecelakaan.
- Buat “Safe Word”: Sepakati satu kata sandi rahasia dengan keluarga inti yang hanya diketahui kalian.
- Verifikasi: Jika menerima telepon darurat mencurigakan, tanyakan kata sandi tersebut. Jika penelepon tidak bisa menjawab atau mengelak, segera tutup telepon.
Baca Juga: Apa Itu Deepfake? Kenali Bahaya & Cara Mengatasinya!
4. Terapkan “Zero Trust” pada Link Singkat (Shortlink)
Tautan pendek seperti bit.ly atau s.id sering digunakan untuk menyembunyikan tujuan asli sebuah website. Prinsip Zero Trust mengajarkan Anda untuk tidak percaya pada tautan apapun yang Anda terima tanpa verifikasi.
- Gunakan Link Expander: Anda bisa menggunakan layanan pengecek link (seperti WhereGoes) untuk melihat ke mana tautan tersebut sebenarnya mengarah.
- Ketik Manual: Jika Anda menerima notifikasi dari bank atau e-commerce, lebih aman membuka aplikasi atau mengetik alamat web resmi secara manual di browser daripada mengklik tautan di pesan.
Pertahanan keamanan siber terkuat sekalipun akan runtuh jika 'Human Firewall'-nya lemah. Menerapkan prinsip Zero Trust atau tidak mempercayai entitas apapun, baik di dalam maupun di luar jaringan, tanpa verifikasi adalah kunci utama melindungi aset perusahaan dari rekayasa sosial.
Baca Juga: Apa Itu Social Engineering? Ini jenis, Contoh & Tipsnya!
5. Aktifkan Passkeys, Tinggalkan Password Biasa
Kombinasi password seperti tanggal lahir atau “123456” sangat mudah ditebak. Mulailah beralih ke teknologi keamanan biometrik.
- Aktifkan Passkeys: Gunakan fitur login dengan sidik jari atau pemindaian wajah yang kini disediakan banyak platform besar (Google, Apple, Microsoft).
- Gunakan 2FA (Two-Factor Authentication): Aktifkan verifikasi dua langkah. Meski password Anda bocor, penipu tetap tidak bisa masuk tanpa kode OTP atau persetujuan dari perangkat utama Anda.
Baca Juga: Apa Itu Biometrik? Jenis, Cara Kerja, Hukum & Contohnya!
6. Verifikasi “Call-Back” untuk Urusan Bisnis/Transfer Besar
Bagi Anda yang bekerja di korporat atau mengurus vendor, hati-hati terhadap Business Email Compromise (BEC). Penipu bisa meretas email vendor dan mengirim tagihan dengan nomor rekening baru.
- Jangan Balas Email: Jika ada permintaan ganti rekening, jangan membalas di utas email yang sama.
- Telepon Resmi: Ambil inisiatif untuk menelepon kontak vendor yang sudah tersimpan di database kantor Anda (bukan nomor di email baru) untuk mengonfirmasi kebenaran perubahan tersebut secara lisan.
7. Cek Rekening di Database Nasional Sebelum Transfer
Sebelum Anda mentransfer uang ke toko online yang baru dikenal di Instagram atau Facebook, luangkan waktu satu menit untuk pemeriksaan latar belakang.
- Cek Jejak Digital: Gunakan situs resmi seperti Cekrekening.id milik pemerintah untuk melihat apakah nomor rekening tujuan pernah dilaporkan atas dugaan penipuan.
- Lihat Reputasi: Waspadai penjual yang mematikan kolom komentar atau memiliki pengikut palsu (bot).
Apa yang Harus Dilakukan Jika Terlanjur Jadi Korban?
Jika Anda menyadari telah mengklik tautan berbahaya atau mentransfer uang ke penipu, tetap tenang dan lakukan langkah mitigasi berikut secepat mungkin:
- Putuskan Koneksi Internet: Segera matikan data seluler atau WiFi pada perangkat Anda untuk mencegah malware mengirim data lebih lanjut.
- Hubungi Bank: Telepon Call Center resmi bank Anda untuk memblokir kartu debit/kredit dan akun mobile banking sementara waktu.
- Ganti Password: Lakukan penggantian semua kata sandi akun penting (email, sosmed, bank) menggunakan perangkat lain yang bersih (bukan perangkat yang terkena virus).
- Lapor Pihak Berwajib: Buat laporan kepolisian sebagai syarat administrasi jika Anda ingin mengajukan klaim atau penelusuran dana di bank.
Baca Juga: Cara Mengatasi Serangan Hacker Terbaru 2026
Menghindari penipuan online di era serba digital memang menuntut kewaspadaan ekstra. Intinya, Anda tidak perlu menjadi paranoid, tetapi cukup bangun kebiasaan untuk selalu skeptis dan melakukan verifikasi ulang. Ingat, kenyamanan dan kecepatan transaksi tidak boleh mengorbankan keamanan data pribadi maupun aset perusahaan Anda.
Penerapan teknologi yang tepat juga bisa membantu mengurangi risiko penipuan dokumen dan identitas. Pastikan Anda selalu menggunakan platform digital yang terpercaya dan memiliki standar keamanan tinggi untuk setiap urusan bisnis.
Tertarik meningkatkan keamanan dokumen bisnis Anda agar terhindar dari pemalsuan? Kunjungi Mekari Sign atau pelajari tips keamanan lainnya di blog Mekari Sign.
Ingin transaksi bisnis lebih aman dan bebas pemalsuan? Mekari Sign sekarang!

Referensi
- Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN)
- Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi)
