icon
Health
11 min read

SIMRS: Fungsi, Modul, dan Integrasinya dengan RME, SATUSEHAT, dan Tanda Tangan Elektronik

Ditulis oleh:
Mekari Sign Author Almer Alyafaras
Tayang
Share
WhatsApp X LinkedIn Facebook
SIMRS: Fungsi, Modul, dan Integrasinya dengan RME, SATUSEHAT, dan Tanda Tangan Elektronik
Mekari Sign Highlights

  • SIMRS menghubungkan proses pelayanan, administrasi, dan pelaporan rumah sakit agar informasi dapat digunakan lintas unit.
  • Modul yang umum tersedia meliputi pendaftaran, layanan klinis, rekam medis, farmasi, pemeriksaan penunjang, billing, dan manajemen.
  • RME merupakan subsistem dari sistem informasi fasilitas pelayanan kesehatan, sedangkan SATUSEHAT menjadi ekosistem pertukaran data kesehatan nasional.
  • Permenkes 6/2026 mengatur pencatatan dan pelaporan rumah sakit dalam Sistem Informasi Kesehatan yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
  • Mekari Sign sebagai Intelligent Contract Management Software (ICMS) dapat melengkapi SIMRS melalui integrasi tanda tangan elektronik tersertifikasi, termasuk untuk kebutuhan solusi untuk rumah sakit dan klinik.

Data pendaftaran, pemeriksaan, farmasi, dan administrasi dibuat oleh unit berbeda sehingga koordinasi layanan dapat melambat ketika informasinya tidak terhubung. Pada 24 Agustus 2026, Kemenkes mendorong konsolidasi SIMRS dan integrasi SATUSEHAT di 42 rumah sakit vertikal untuk menjaga konsistensi data, sebagaimana dijelaskan dalam pengumuman Kemenkes.

Dalam konteks ini, SIMRS adalah singkatan dari Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit. SIMRS adalah sistem informasi operasional rumah sakit yang digunakan manajemen dan tenaga kesehatan untuk mengintegrasikan proses pelayanan, administrasi, dan pelaporan.

Artikel ini membahas fungsi dan modul SIMRS, model pengembangannya, serta hubungan sistem ini dengan RME, SATUSEHAT, dan pengelolaan klaim JKN. Anda juga akan melihat bagaimana tanda tangan elektronik dapat diintegrasikan melalui API dan apa saja yang perlu diperiksa sebelum memilih atau mengevaluasi SIMRS.

Apa Itu SIMRS?

Dalam praktiknya, SIMRS menghubungkan informasi yang dibuat satu unit dengan kebutuhan unit lain sesuai kewenangan pengguna. Data pasien dari pendaftaran, misalnya, dapat digunakan poliklinik untuk melihat informasi kunjungan. Catatan pelayanan kemudian menjadi rujukan bagi farmasi untuk memproses resep dan bagian kasir untuk menghitung tagihan.

Alur ini mengurangi kebutuhan memasukkan informasi yang sama berulang kali. Manajemen juga dapat melihat data operasional dari proses pelayanan, selama modul dan integrasinya dikonfigurasi dengan benar.

Istilah SIMRS pernah diatur secara khusus melalui Permenkes 82/2013. Namun, JDIH Kementerian Kesehatan mencatat peraturan tersebut berstatus tidak berlaku karena dicabut oleh Permenkes 6/2026. Oleh sebab itu, definisi operasional SIMRS perlu dibedakan dari ketentuan hukum yang berlaku saat ini.

Permenkes 6/2026 tentang Rumah Sakit mengatur pencatatan dan pelaporan semua kegiatan rumah sakit dalam Sistem Informasi Kesehatan yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Kesehatan Nasional. Pasal 74 juga mewajibkan kerahasiaan dokumen tersebut. Ketentuan ini mengatur sistem informasi kesehatan terintegrasi, bukan satu aplikasi SIMRS tertentu.

Fungsi SIMRS dalam Operasional Rumah Sakit

SIMRS mengoordinasikan informasi yang dibutuhkan selama pasien menerima layanan. Data yang dibuat satu unit dapat digunakan unit lain sesuai alur kerja dan hak aksesnya.

Menghubungkan alur pelayanan pasien

Proses pelayanan mencakup pendaftaran, antrean, pemeriksaan, tindakan, hingga penyelesaian administrasi. SIMRS dapat menghubungkan status kunjungan agar petugas terkait mengetahui tahapan yang sedang berjalan. Pada layanan rawat inap, sistem juga dapat mengelola informasi kamar dan perpindahan pasien jika modulnya tersedia.

Mengelola informasi klinis dan administratif

Data pasien dan riwayat layanan dapat digunakan lintas unit sesuai hak akses. Informasi identitas, penjamin, jadwal, tarif, dan pembayaran juga dapat dikaitkan dengan proses pelayanan. Namun, integrasi tidak otomatis menjamin akurasi. Petugas tetap perlu memeriksa identitas, diagnosis, tindakan, dan hasil pemeriksaan saat memasukkan data.

Mendukung pengelolaan sumber daya

Modul yang sesuai dapat membantu unit memantau ketersediaan obat, alat kesehatan, tempat tidur, tenaga kerja, dan aset. Bagian farmasi serta logistik dapat menggunakan data tersebut untuk mengawasi stok dan merencanakan kebutuhan pengadaan.

Menyediakan bahan pelaporan dan evaluasi

Laporan kunjungan, penggunaan layanan, pendapatan, dan persediaan membantu manajemen membandingkan kinerja antarperiode. Data yang tersedia lintas unit juga menjadi fondasi layanan kesehatan digital, karena keputusan operasional dapat mempertimbangkan informasi dari proses klinis hingga administrasi.

Modul SIMRS yang Umum Digunakan Rumah Sakit

Modul SIMRS menggambarkan unit kerja atau proses yang didukung oleh sistem. Susunan modul setiap rumah sakit dapat berbeda, bergantung pada jenis layanan, ukuran fasilitas, kebutuhan operasional, dan sistem lain yang sudah digunakan.

Modul Aktivitas yang dikelola Contoh data atau dokumen
Pendaftaran dan admisi Registrasi pasien, pembaruan identitas, verifikasi penjamin, dan pengaturan antrean. Identitas pasien, nomor rekam medis, data kunjungan, dan persetujuan administrasi.
Pelayanan klinis Pengelolaan alur rawat jalan, IGD, rawat inap, konsultasi, dan tindakan. Catatan pelayanan, instruksi tindakan, dan status kunjungan.
Rekam medis Pencatatan informasi klinis selama pasien menerima pelayanan. Anamnesis, diagnosis, hasil pemeriksaan, tindakan, dan resume medis.
Farmasi dan logistik Pengelolaan resep, penyiapan obat, distribusi, serta pemantauan stok. Resep, catatan pemberian obat, kartu stok, dan permintaan pengadaan.
Laboratorium dan radiologi Permintaan pemeriksaan, pemrosesan, dan pencatatan hasil penunjang. Permintaan pemeriksaan, hasil laboratorium, dan laporan radiologi.
Billing dan administrasi penjamin Perhitungan biaya layanan, transaksi pembayaran, dan penyiapan dokumen pendukung klaim. Rincian tagihan, bukti pembayaran, dan dokumen pendukung penjamin.
Manajemen dan back office Pengelolaan keuangan, SDM, aset, inventaris, serta pelaporan internal. Laporan manajemen, data persediaan, data aset, dan laporan keuangan.

Susunan modul tidak harus sama di setiap rumah sakit. Fasilitas yang memiliki layanan rawat inap, misalnya, membutuhkan pengelolaan tempat tidur dan perpindahan pasien yang berbeda dari rumah sakit yang berfokus pada rawat jalan.

Mulailah evaluasi dengan memetakan unit, data yang dibuat, pihak yang membutuhkan data, dan titik pertukaran informasi. Dari sana, rumah sakit dapat menentukan modul inti dan integrasi yang diperlukan.

Model Pengembangan dan Penggunaan SIMRS

Model SIMRS dapat dilihat dari tiga dimensi: cara pengembangan, lisensi, dan deployment. Ketiganya berbeda, sehingga satu sistem dapat memiliki beberapa karakteristik sekaligus.

Dimensi Model Hal yang perlu dipertimbangkan
Pengembangan Dikembangkan oleh tim internal atau disediakan vendor. Ketersediaan developer, kecepatan perubahan fitur, dukungan pemeliharaan, dan ketergantungan pada penyedia.
Lisensi Open source atau proprietary. Hak modifikasi, biaya lisensi, dokumentasi, keamanan pembaruan, dan kemampuan rumah sakit mengelola kode.
Penempatan sistem (deployment) Cloud, on-premise, atau kombinasi keduanya. Kebutuhan infrastruktur, konektivitas, kontrol akses, pencadangan, pemulihan, dan pengelolaan data.

Sistem dari vendor, misalnya, dapat menggunakan lisensi proprietary dan berjalan di cloud. Sementara itu, sistem yang dikembangkan internal dapat ditempatkan di server rumah sakit. Satu sistem dapat menggabungkan pilihan dari ketiga dimensi tersebut.

Istilah SIMRS online lebih menggambarkan cara akses melalui jaringan, bukan kategori lisensi atau pengembangan yang berdiri sendiri. Sistem cloud umumnya diakses melalui jaringan, sedangkan akses ke server on-premise juga dapat diatur melalui jaringan internal rumah sakit.

Pilih model berdasarkan kemampuan tim IT, anggaran, kebijakan data, kebutuhan integrasi, serta dukungan pemeliharaan, pembaruan keamanan, pencadangan, dan pemulihan layanan.

Hubungan SIMRS, RME, SATUSEHAT, dan e-Klaim

SIMRS, Rekam Medis Elektronik (RME), SATUSEHAT, dan e-Klaim saling berkaitan, tetapi memiliki fungsi berbeda. Pembedaan ini membantu rumah sakit memahami sistem mana yang mencatat data, memfasilitasi pertukaran informasi, dan mendukung administrasi klaim.

SIMRS mengelola proses operasional rumah sakit

SIMRS menghubungkan proses pelayanan dan administrasi internal, mulai dari pendaftaran hingga pembayaran dan pelaporan, sesuai modul yang digunakan rumah sakit.

RME mencatat informasi medis pasien secara elektronik

Rekam Medis Elektronik (RME) mendokumentasikan informasi medis selama pasien menerima pelayanan, seperti hasil pemeriksaan, diagnosis, tindakan, dan pengobatan. Berdasarkan Permenkes 24/2022, RME merupakan salah satu subsistem sistem informasi fasilitas pelayanan kesehatan yang terhubung dengan subsistem lainnya.

Karena itu, RME tidak selalu identik dengan satu modul SIMRS. Hubungannya bergantung pada arsitektur sistem informasi rumah sakit dan cara masing-masing subsistem bertukar data.

SATUSEHAT menghubungkan pertukaran data kesehatan

SATUSEHAT adalah ekosistem pertukaran data kesehatan yang menghubungkan fasilitas pelayanan kesehatan, regulator, penjamin, dan penyedia layanan digital. Kementerian Kesehatan menetapkan standar interoperabilitas agar sistem yang berbeda dapat bertukar data secara konsisten.

Dokumentasi SATUSEHAT Platform menggunakan HL7 FHIR dan HTTPS REST API. Fasilitas kesehatan yang menerapkan RME terintegrasi SATUSEHAT perlu memetakan data, identitas pasien, autentikasi, dan status pengiriman agar informasi dari sistem internal dapat dipertukarkan sesuai standar interoperabilitas.

e-Klaim memanfaatkan dokumen pendukung dari proses pelayanan

e-Klaim digunakan fasilitas kesehatan untuk mengajukan klaim pelayanan kepada BPJS Kesehatan. Dokumentasi interoperabilitas klaim BPJS di SATUSEHAT menjelaskan bahwa data kunjungan dan klinis dari RME digunakan untuk mendukung validasi klaim. Pada 30 Juli 2026, Kemenkes bersama KPK, Kemendagri, BPJS Kesehatan, dan BSSN menandatangani Surat Edaran Bersama tentang percepatan implementasi RME terintegrasi SATUSEHAT dalam pengelolaan klaim JKN.

Pengumuman Kemenkes menyebut RME berbasis NIK yang terintegrasi SATUSEHAT sebagai dokumen elektronik pendukung pengelolaan klaim. Detail pelaksanaan tetap perlu merujuk pada naskah SEB lengkap dan petunjuk teknis yang berlaku, bukan asumsi bahwa seluruh rumah sakit menjalani tahapan transisi yang sama.

SIMRS mengelola proses operasional rumah sakit, RME mendokumentasikan informasi medis, SATUSEHAT memfasilitasi pertukaran data kesehatan, sedangkan e-Klaim mendukung administrasi klaim JKN. Agar keempatnya dapat bertukar informasi tanpa mengaburkan fungsi dan tanggung jawab masing-masing, rumah sakit memerlukan sistem integrasi yang mengatur pemetaan data, autentikasi, dan alur pertukaran informasi.

Cara Mengintegrasikan Tanda Tangan Elektronik ke SIMRS melalui API

Dokumen dari SIMRS atau RME dapat memerlukan tanda tangan tenaga kesehatan, pasien, atau pihak berwenang sesuai jenis dokumen dan prosedur rumah sakit. Integrasi API menghubungkan fungsi penandatanganan elektronik ke sistem yang sudah digunakan.

Rumah sakit dapat menghubungkan SIMRS dengan layanan penandatanganan elektronik melalui OpenAPI Mekari Sign. Secara khusus, eSignature API mendukung pengiriman dokumen untuk ditandatangani, penerimaan pembaruan status melalui callback atau webhook, serta pengambilan dokumen final beserta audit trail. Mekari Sign bermitra dengan PSrE PT Tilaka Nusa Teknologi untuk menyediakan TTE tersertifikasi.

Secara konseptual, alur integrasi dapat disusun sebagai berikut:

  1. Dokumen dibuat di SIMRS atau RME. Sistem rumah sakit menyiapkan dokumen dan menentukan jenis dokumen, identitas penanda tangan, serta urutan proses yang berlaku.
  2. SIMRS mengirim permintaan melalui API. Dokumen dan informasi yang diperlukan diteruskan ke layanan tanda tangan melalui koneksi yang telah dikonfigurasi oleh tim developer.
  3. Penanda tangan menyelesaikan proses verifikasi dan tanda tangan. Alur ini mengikuti pengaturan identitas dan metode penandatanganan yang digunakan.
  4. Status proses dikirim kembali ke sistem. Callback atau webhook dapat memberi notifikasi ketika status dokumen berubah, sehingga SIMRS dapat memperbarui status proses.
  5. Dokumen yang telah ditandatangani dikembalikan dan ditautkan ke rekam dokumen. Sistem dapat mengambil dokumen final beserta audit trail melalui API untuk disimpan atau diakses sesuai kebijakan rumah sakit.

Tim IT perlu memeriksa autentikasi, pemetaan data, format dokumen, hak akses, penanganan kegagalan, serta cara sistem menyimpan dokumen final. Integrasi membutuhkan developer, pengujian sebelum live, dan pengelolaan kuota serta rate limit sesuai paket API.

RS Raudhah Bangko menjadi contoh penerapan integrasi pada SIMRS yang sudah digunakan rumah sakit. Sebanyak 29 dokter di RS Raudhah Bangko menggunakan sistem tersebut untuk menandatangani RME dan dokumen klaim. Proses pembubuhan tanda tangan tercatat sekitar 10–15 detik, bahkan terkadang kurang dari 10 detik.

Penerapan ini memperlihatkan bagaimana tanda tangan di SIMRS dapat mengikuti alur kerja yang sudah digunakan tenaga kesehatan, sehingga dokumen tidak perlu selalu diproses secara terpisah melalui mekanisme cetak dan pemindaian. Hasil implementasi tetap bergantung pada konfigurasi sistem, kebutuhan rumah sakit, dan kesiapan tim teknis.

TTE tersertifikasi membantu memverifikasi identitas penanda tangan dan menjaga integritas dokumen. Namun, tanda tangan tidak membuktikan kebenaran klinis isi RME, menggantikan prosedur persetujuan pasien, atau menjamin klaim JKN diterima.


Checklist Evaluasi SIMRS untuk Rumah Sakit

Jangan menilai SIMRS hanya dari jumlah modul atau tampilan aplikasi. Periksa kesesuaiannya dengan proses rumah sakit, kemampuan bertukar data, pengamanan informasi, dan dukungan teknis.

Area evaluasi Pertanyaan yang perlu diperiksa Hal yang perlu dibuktikan
Cakupan modul Apakah sistem mendukung proses pendaftaran, layanan klinis, farmasi, penunjang, billing, dan administrasi yang digunakan rumah sakit? Demo alur kerja berdasarkan proses nyata tiap unit, bukan hanya daftar fitur.
RME Apakah data medis dapat dicatat, diperbarui, diakses, dan disimpan sesuai kewenangan pengguna? Contoh alur pencatatan, riwayat perubahan, dan pengelolaan dokumen.
Interoperabilitas Apakah sistem mendukung pertukaran data dengan SATUSEHAT dan sistem eksternal lain yang diperlukan? Dokumentasi standar, hasil pengujian, dan pemantauan status pertukaran data.
API Apakah API tersedia untuk menghubungkan sistem dengan layanan lain, termasuk tanda tangan elektronik? Dokumentasi API, autentikasi, sandbox, callback, batas penggunaan, dan dukungan teknis.
Keamanan dan privasi Apakah hak akses dibatasi berdasarkan peran dan aktivitas pengguna dapat ditelusuri? Pengaturan akses, audit trail, pencadangan, enkripsi, dan prosedur penanganan insiden.
Ketersediaan layanan Bagaimana sistem menangani gangguan jaringan, downtime, dan pemulihan data? SLA, prosedur backup dan recovery, serta mekanisme kerja saat sistem tidak tersedia.
Dukungan vendor Siapa yang menangani pemeliharaan, pembaruan, migrasi, dan pengembangan sistem? Kontrak layanan, pembagian tanggung jawab, dokumentasi, dan skema ekspor data.

Saat mengevaluasi kemampuan teknis vendor, tim IT perlu menguji integrasi API menggunakan dokumen simulasi. Pastikan sistem dapat mengirim permintaan, menerima respons dan perubahan status, serta mengambil kembali dokumen final tanpa kehilangan informasi yang diperlukan.

Apabila vendor mengakses atau mengolah data pasien atas instruksi rumah sakit, perjanjian perlu menetapkan tanggung jawabnya sebagai prosesor data pribadi. Pengaturan tersebut perlu mencakup tujuan pemrosesan, batas akses, pengamanan, retensi, penanganan insiden, hingga penghapusan data.

Penutup

Penerapan SIMRS membantu rumah sakit menghubungkan proses pendaftaran, pelayanan klinis, farmasi, pemeriksaan penunjang, hingga administrasi dalam satu alur informasi. Efektivitasnya bergantung pada kesesuaian modul, kualitas pencatatan, kemampuan integrasi, dan pengaturan akses data. Pengelolaan dokumen yang dihasilkan juga memerlukan proses verifikasi identitas, pengesahan, dan penyimpanan agar aktivitasnya dapat ditelusuri.

Untuk melengkapi kebutuhan pengelolaan dokumen tersebut, rumah sakit dapat memanfaatkan Mekari Sign sebagai Intelligent Contract Management Software (ICMS) yang mengintegrasikan tanda tangan elektronik tersertifikasi, e-Meterai resmi Peruri, eKYC, manajemen kontrak, audit trail, dan integrasi sistem. Melalui API Signature, rumah sakit dapat menghubungkan proses penandatanganan dengan SIMRS yang sudah digunakan tanpa harus mengganti sistem operasionalnya.

Integrasi Mekari Sign membantu rumah sakit mengurangi pekerjaan administratif manual, mendukung verifikasi identitas penanda tangan, memantau status dokumen, dan menelusuri riwayat penandatanganan. Kapabilitas ini melengkapi proses pelayanan dan pencatatan medis yang tetap dikelola melalui SIMRS dan RME. Implementasinya memerlukan dukungan developer, pengujian integrasi, serta penyesuaian alur kerja dengan kebutuhan fasilitas kesehatan.

WhatsApp WhatsApp Sales